Banjir Rob Rendam Tarakan Barat, Warga Keluhkan Jalan Dan Motor Rusak
Banjir rob atau air pasang kembali melanda beberapa wilayah Tarakan Barat, Kalimantan Utara, menciptakan keresahan dan kerugian bagi masyarakat setempat.
Fenomena ini, yang terjadi pada Selasa (3/2/2026) malam, tidak hanya mengganggu aktivitas warga tetapi juga merusak kendaraan dan infrastruktur jalan.
Berikut ini, Kalimantan Indonesia akan mengindikasikan adanya masalah yang lebih dalam yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Tarakan Barat Dihantam Banjir Rob Parah
Genangan air pasang laut kembali menyelimuti wilayah Tarakan Barat, Kalimantan Utara, pada Selasa malam. Ketinggian air yang merendam badan jalan utama secara signifikan menghambat aktivitas sehari-hari warga. Bahkan, banyak kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengalami kerusakan serius akibat nekat menerobos genangan air asin tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Rejo, menjadi salah satu titik terparah yang terdampak. Di pertigaan menuju Jembatan Bongkok, atau yang dikenal sebagai kawasan Mangrove, ketinggian air mencapai betis hingga lutut orang dewasa. Wilayah RT 21, RT 32, dan RT 35, khususnya, merasakan dampak paling parah dari fenomena ini.
Berbeda dengan beberapa area lain, seperti Kelurahan Selumit Pantai, banjir rob tidak sampai menggenangi jalan. Namun, air pasang membawa serta tumpukan sampah yang kini menggenang di permukaan air. Meskipun tidak separah di Karang Rejo, kondisi ini tetap menimbulkan masalah kebersihan dan potensi gangguan lingkungan.
Keresahan Warga Dan Kerusakan Yang Berulang
Tajuddin, seorang warga RT 21 Kelurahan Karang Rejo, mengungkapkan keresahannya atas banjir rob yang terus berulang setiap tahun. Menurutnya, kondisi ini bukannya membaik, melainkan justru semakin parah. Ia merasa bahwa ketinggian air terus bertambah dari tahun ke tahun, membuat mereka semakin sulit menjalani aktivitas sehari-hari.
Dampak banjir rob ini sangat merugikan warga. Selain air yang kerap masuk ke dalam rumah, banyak kendaraan warga yang mengalami kerusakan parah. Motor-motor sering mogok bahkan berkarat akibat nekat menerobos genangan air asin yang cukup dalam. Hal ini juga membahayakan keselamatan pengendara yang terpaksa melintas.
Selain itu, aktivitas anak sekolah juga sangat terhambat. Jika air pasang terjadi di pagi hari, anak-anak terpaksa melepas sepatu dan berjalan kaki menembus banjir. Kerusakan infrastruktur jalan pun semakin parah, dengan aspal yang sudah terbongkar dan rusak di banyak titik, menambah daftar panjang masalah yang ditimbulkan banjir rob.
Baca Juga: Pelaku Lempar Bom Molotov ke SMPN 3 Sungai Raya Kalbar Ditangkap
Permintaan Warga Dan Harapan Kepada Pemerintah
Tajuddin berharap Pemerintah Kota Tarakan, khususnya Wali Kota, segera turun tangan mengatasi permasalahan banjir rob ini. Ia mengusulkan agar jalan sepanjang kurang lebih 500 meter tersebut segera ditinggikan atau diuruk. Perbaikan drainase juga menjadi solusi krusial untuk mencegah genangan air.
Menurutnya, solusi konkret yang dibutuhkan adalah mempondasi sisi jalan, mengangkat drainase, dan menguruk jalan setidaknya setengah meter. Meskipun warga telah menyampaikan aspirasi ini melalui media sosial kepada pemerintah, hingga saat ini belum ada realisasi dari usulan tersebut, yang menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat.
Naskar, Ketua RT 21 Kelurahan Karang Rejo, membenarkan bahwa banjir rob di wilayahnya kini semakin tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini sangat bergantung pada tabel pasang surut air laut. Kondisi “air 35” (kode ketinggian air pasang) yang dulunya tidak terlalu parah, kini justru sering mengakibatkan genangan dalam.
Fenomena Alam Yang Semakin Mengkhawatirkan
Naskar menambahkan, meski banjir kali ini diperkirakan sudah mulai surut dibanding hari sebelumnya, fenomena pasang surut ini semakin mengkhawatirkan. Ia mengakui bahwa jika pasang air laut sedang tinggi, misalnya mencapai “air 36”, genangan bisa jauh lebih dalam lagi. Ini menunjukkan bahwa ada perubahan pola pasang surut yang signifikan.
Ia mengenang, “Kalau dulu air 35 zaman dulu enggak acap (sering tenggelam), sekarang acap.” Ini menjadi indikasi kuat bahwa kondisi pasang air laut memang meningkat seiring waktu. Bahkan, di depan kawasan Mangrove, genangan air sudah seperti sungai, menandakan tingkat keparahan yang luar biasa.
Perubahan ini bukan hanya sekadar gangguan sesaat, melainkan ancaman serius bagi keberlangsungan hidup warga dan infrastruktur di Tarakan Barat. Diperlukan tindakan cepat dan komprehensif dari pemerintah untuk mitigasi dan adaptasi terhadap fenomena banjir rob yang kian parah ini.
Selalu ikuti berita terbaru mengenai Kalimantan Indonesia serta ragam informasi menarik yang memperluas wawasan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar pertama dari detik.com
- Gambar Utama dari detik.com