Siswa di daerah terpencil Kalteng masih sulit akses MBG, Wagub Edy Pratowo soroti kendala geografis dan dorong percepatan SPPG.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Tengah menghadapi tantangan besar. Siswa-siswi di wilayah terpencil Kalimantan Indonesia masih kesulitan mendapatkan manfaatnya. Wagub Edy Pratowo menekankan pentingnya percepatan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar semua anak bisa menikmati program ini secara merata.
Tantangan Akses MBG Di Daerah Terpencil Kalteng
Siswa-siswi dari daerah terpencil di Provinsi Kalimantan Tengah masih menghadapi kesulitan mendapatkan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini muncul karena kendala geografis yang membuat beberapa wilayah sulit dijangkau.
Wakil Gubernur Kalteng, Edy Pratowo, mengungkapkan saat menerima audiensi Badan Gizi Nasional (BGN) bahwa perhatian khusus dibutuhkan untuk memastikan program MBG dapat menjangkau seluruh siswa, termasuk yang berada di lokasi terpencil. Kendala geografis membuat sebagian siswa sulit mengakses MBG. Ini tantangan yang harus segera ditangani, katanya.
Edy menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah dan BGN untuk mempercepat pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh provinsi. Dengan langkah ini, diharapkan lebih banyak siswa dapat menikmati manfaat program MBG secara merata.
Pemprov Kalteng Siapkan Sarana Pendukung Pangan
Pemerintah Provinsi Kalteng menyiapkan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung pasokan pangan bagi SPPG di seluruh wilayah. Salah satunya pembangunan Rice Milling Plant (RMP) di Desa Lempuyang, Kotawaringin Timur, yang berfungsi sebagai pabrik pengolahan padi menjadi beras modern.
Selain RMP, Pemprov Kalteng juga mengembangkan Proyek Rice Milling Unit (RMU) dan Rice to Rice (RtR) di Pulang Pisau, serta pabrik pakan ternak di Kecamatan Parenggean. Tak hanya itu, sentra tanaman hortikultura dibangun di Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau untuk mendukung ketahanan pangan lokal.
Semua inisiatif ini diharapkan memperkuat kemandirian pangan dan memastikan ketersediaan bahan baku berkualitas untuk MBG. Langkah ini menunjukkan upaya konkret pemerintah dalam menjawab tantangan akses pangan sehat bagi siswa di seluruh Kalteng.
Baca Juga: Tanda Tangan Kesepakatan, Pemprov Kalteng dan Bulog Dorong Ketahanan Pangan
Dampak Ekonomi Program MBG
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Letjen Dadang Hendrayuda, menyoroti bahwa program MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan siswa, tetapi juga menciptakan efek ekonomi berantai. Investasi awal dalam penyediaan makanan bergizi dapat meningkatkan perputaran uang di perekonomian lokal.
Selain itu, program MBG mendorong pertumbuhan UMKM, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat sistem pangan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa MBG memiliki nilai strategis yang jauh melampaui anggaran program itu sendiri.
Dadang menekankan pentingnya kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Koordinasi yang baik menjadi kunci untuk menjamin ketersediaan bahan pangan dan kelancaran distribusi MBG, terutama di wilayah terpencil.
Komitmen Bersama Sukseskan MBG
Edy Pratowo menegaskan bahwa Pemprov Kalteng terus berkomitmen mendukung program MBG Presiden. Ia menyambut baik audiensi dengan BGN karena memberikan dorongan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan layanan gizi di sekolah.
Wagub menekankan bahwa pembangunan SPPG, fasilitas pengolahan padi, serta sentra hortikultura menjadi upaya terstruktur dalam menjamin ketahanan pangan dan akses MBG. Fokusnya tidak hanya pada distribusi makanan, tetapi juga kualitas, ketersediaan, dan kesinambungan pasokan.
Kolaborasi lintas instansi diharapkan membuat program MBG dapat dinikmati merata, terutama bagi siswa di daerah terpencil. Dengan dukungan semua pihak, MBG di Kalteng diharapkan menjadi model sukses yang mengintegrasikan kesehatan, ekonomi lokal, dan pemerataan akses pangan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari muria.inews.id