Sebuah insiden keji mengguncang Ketapang, Kalimantan Barat, ketika seorang bocah laki-laki 6 tahun diduga dianiaya brutal kekasih ibunya.
Korban kini terbaring kritis di ruang ICU, menderita luka serius termasuk patah tulang. Berikut ini, Kalimantan Indonesia akan sontak memicu kemarahan publik dan menyoroti bahaya kekerasan dalam rumah tangga yang seringkali tersembunyi.
Kondisi Kritis Dan Perjuangan Di ICU
Seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun di Ketapang kini harus berjuang untuk hidupnya di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Ia menjadi korban dugaan penganiayaan oleh R (27), kekasih ibunya, yang kini telah diamankan pihak kepolisian. Kondisi korban masih sangat mengkhawatirkan.
Plt Direktur RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, dr. Feria Kowira, menjelaskan hasil pemeriksaan medis yang mengerikan. Menggunakan CT scan dan rontgen, tim dokter menemukan sejumlah luka serius, termasuk memar di berbagai bagian tubuh serta patah tulang. Parahnya, tindakan operasi belum dapat dilakukan karena kondisi korban yang belum stabil.
“Sebenarnya ada indikasi perlunya tindakan operasi. Tetapi karena kondisi pasien belum stabil, kami belum bisa melaksanakannya,” jelas dr. Feria pada Selasa (20/1/2025). Tim medis saat ini masih berupaya memulihkan kondisi korban terlebih dahulu, menghadapi tantangan besar untuk menstabilkan keadaannya.
Kronologi Kejadian Dan Upaya Penanganan Medis
Korban dibawa ke rumah sakit pada Rabu, 14 Januari 2026, dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah tiba di rumah sakit, tim medis segera melakukan penanganan darurat dan berkoordinasi dengan berbagai dokter spesialis terkait. Ini menunjukkan keseriusan dan kecepatan respons rumah sakit terhadap kasus ini.
Hingga saat ini, kondisi anak tersebut masih belum stabil dan berada di bawah pengawasan ketat tim medis. “Pasien masih menjalani perawatan intensif. Masih ditangani oleh tim medis yang terdiri dari dokter spesialis anak, spesialis ortopedi (tulang), serta tim ICU,” ujar dr. Feria, menunjukkan pendekatan multidisiplin dalam perawatannya.
Mengenai penyebab utama luka yang dialami korban, dr. Feria menegaskan bahwa hal tersebut merupakan ranah aparat penegak hukum. “Itu mungkin kembali ke pihak yang berwajib,” tegasnya, menjaga etika profesionalisme dan menyerahkan proses investigasi kepada kepolisian.
Baca Juga: Kubu Raya di Ambang Bahaya, Bupati Ingatkan Ancaman 3 Bencana Sekaligus
Penangkapan Pelaku Dan Motif Penganiayaan
Polres Ketapang telah mengamankan R (27), yang merupakan calon ayah tiri korban, dan diduga sebagai pelaku penganiayaan. Ia saat ini masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Ketapang. Pihak kepolisian berupaya mengungkap secara lengkap dugaan tindak kekerasan tersebut, mencari keadilan bagi korban.
Kasat Reskrim Polres Ketapang, Iptu Dedy Syahputra Bintang, menjelaskan bahwa penganiayaan terjadi sekitar pukul 10.00 WIB pada 14 Januari 2026. Peristiwa bermula ketika ibu korban, Y, membawa anaknya ke rumah pelaku di Kelurahan Mulia Baru, Kabupaten Ketapang, kemudian Y pergi ke pasar dan meninggalkan anaknya bersama pelaku.
“Saat itu pelaku hanya berdua dengan korban di rumahnya di Kelurahan Mulia Baru. Saat itulah penganiayaan terjadi,” beber Dedy. Motif di balik penganiayaan ini terungkap: pelaku mengaku emosi karena korban sering sakit, dan biaya pengobatan menguras uang yang disiapkan untuk pernikahannya dengan ibu korban. Luka ditemukan di sekujur tubuh, terutama di bagian badan dan wajah.
Seruan Perlindungan Anak Dan Keadilan
Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan anak-anak terhadap kekerasan, terutama di lingkungan terdekat mereka. Kasus ini menyoroti pentingnya kewaspadaan dan peran aktif masyarakat dalam melaporkan dugaan kekerasan anak. Perlindungan anak harus menjadi prioritas utama semua pihak.
Masyarakat Ketapang dan seluruh Indonesia menuntut keadilan bagi bocah malang ini. Proses hukum yang transparan dan penegakan keadilan yang tegas diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah insiden serupa terulang kembali. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan terhadap anak.
Semoga korban dapat segera pulih dan mendapatkan keadilan yang layak. Kasus ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan berani bertindak jika melihat tanda-tanda kekerasan pada anak-anak.
Selalu pantau berita terbaru seputar Kalimantan Indonesia dan berbagai informasi menarik untuk menambah wawasan Anda.
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari umsida.ac.id