Di tengah kemajuan teknologi komunikasi yang pesat, masih ada sudut negeri yang terabaikan, terputus sepenuhnya dari dunia luar.
Inilah kisah pilu warga Desa Long Pujungan, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, yang telah hidup dalam keterasingan digital selama hampir tiga tahun. Meski infrastruktur penunjang telah berdiri kokoh, sinyal seluler tak kunjung menyapa. Kisah mereka adalah cerminan ironi pembangunan, di mana asa akan konektivitas pupus di hadapan realitas yang pahit.
Jelajahi rangkuman berita menarik dan terpercaya lainnya yang memperluas wawasan Anda secara eksklusif di Kalimantan Indonesia.
Menara “Pajangan” Tanpa Fungsi
Yansui Sukuy, salah seorang warga Long Pujungan, mengungkapkan kekecewaannya. Desa mereka memiliki menara Base Transceiver Station (BTS), genset baru, dan bahkan panel surya sebagai penunjang. Namun, semua fasilitas itu seolah tak lebih dari sekadar “pajangan” semata, karena sinyal operator tak kunjung aktif dan berfungsi.
“Tower ada, genset baru ada, solarnya ada. Tapi sinyal tidak ada. Ini sudah hampir tiga tahun tidak memancarkan sinyal lagi,” ujar Yansui kepada detikKalimantan. Pernyataan ini menggambarkan betapa frustrasinya warga melihat infrastruktur ada, namun tidak memberikan manfaat yang semestinya.
Ironisnya, teknisi sempat beberapa kali datang untuk perbaikan, namun sifatnya hanya sementara. “Begitu teknisi naik, sinyal ada. Dua tiga hari teknisi turun, sinyal hilang lagi,” tambahnya. Kondisi ini membuat warga merasa dipermainkan oleh janji-janji perbaikan yang tak pernah tuntas.
Tekanan Ekonomi Dan Solusi Mahal
Ketiadaan sinyal seluler memaksa warga Long Pujungan untuk mencari alternatif yang mahal. Mereka kini bergantung pada layanan internet satelit Starlink milik perorangan, dengan sistem berbayar per jam. “Semenjak Telkomsel tidak berfungsi, masyarakat lari ke Starlink. Itu berbayar, ada yang Rp 5 ribu per jam,” tutur Yansui.
Kondisi ini menambah beban ekonomi bagi masyarakat yang harus mengeluarkan biaya ekstra hanya untuk berkomunikasi. Padahal, kebutuhan komunikasi sangat mendesak, terutama bagi orang tua yang ingin menghubungi anak-anak mereka yang bersekolah di luar daerah.
Situasi diperparah dengan gangguan pasokan listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menjadi tumpuan utama desa, dilaporkan rusak sejak tujuh bulan terakhir. Ini membuat akses komunikasi semakin sulit, sebab perangkat Starlink pun membutuhkan listrik untuk beroperasi.
Baca Juga: Buntut Insiden Emak-Emak Diterkam, Buaya 2 Meter di Tarakan Akhirnya Ditangkap
Lumpuhnya Komunikasi Dan Listrik
Kerusakan PLTA, ditambah dengan rusaknya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan genset desa, telah melumpuhkan hampir seluruh sistem komunikasi di Long Pujungan. “PLTA rusak, PLTS rusak, genset rusak. Jadi lumpuhlah semua komunikasi kami,” keluh Yansui, menggambarkan situasi desa mereka yang terisolasi.
Satu-satunya harapan bagi sebagian warga adalah mereka yang memiliki genset pribadi, yang digunakan untuk menghidupkan perangkat Starlink. Namun, ini tentu bukan solusi berkelanjutan dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang yang mampu.
Kombinasi antara tidak adanya sinyal seluler dan lumpuhnya pasokan listrik menciptakan kondisi yang sangat berat bagi warga. Mereka merasa terputus dari dunia luar, kesulitan dalam berinteraksi, dan menghadapi tantangan besar dalam kehidupan sehari-hari.
Koordinasi Dan Harapan Palsu
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Malinau, Francis, membenarkan adanya kendala jaringan di Long Pujungan. Ia menjelaskan bahwa menara adalah milik Pemerintah Daerah (Pemda), sementara perangkat aktif BTS dan jaringan adalah tanggung jawab operator seluler, dalam hal ini Telkomsel.
Francis menyatakan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan operator. “Memang ada tower milik Pemda yang kerja sama dengan Telkomsel. Informasi yang kami terima, ada kerusakan pada BTS. Nah, BTS ini tanggung jawab Telkomsel,” jelasnya, menunjuk pada pembagian tanggung jawab.
Meskipun kerusakan telah dimonitor dan jadwal perbaikan sedang disusun, warga diminta untuk bersabar. “Mereka (Telkomsel) sudah tahu dan sedang mengatur jadwal ke sana untuk perbaikan. Ada komunikasi dengan kita,” ungkap Francis. Namun, setelah tiga tahun menanti, kesabaran warga mulai menipis di tengah janji yang tak kunjung terealisasi.
Jangan lewatkan update berita seputar Kalimantan Indonesia serta beragam informasi menarik yang dapat memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com