Warga Nunukan patungan perbaiki jembatan rusak, dari uang hingga donat, kinerja pemerintah dipertanyakan publik.
Miris! Di saat infrastruktur menjadi tanggung jawab pemerintah, warga Nunukan justru harus turun tangan sendiri memperbaiki jembatan vital yang rusak. Dengan swadaya, mereka patungan mengumpulkan dana, bahkan ada yang menyumbang makanan seperti donat demi mendukung proses perbaikan.
Aksi gotong royong ini pun viral dan menuai simpati luas, sekaligus memicu pertanyaan besar tentang peran pemerintah. Bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan? Simak kisah lengkapnya di Kalimantan Indonesia.
Warga Nunukan Swadaya Perbaiki Jembatan Vital
Selasa (24/3/2026), warga Desa Ba’ Liku, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, melakukan aksi swadaya untuk memperbaiki Jembatan Sungai Aba’ yang rusak sejak 2023. Jembatan sepanjang sekitar 10 meter ini menghubungkan beberapa desa dan menjadi akses vital bagi transportasi warga, termasuk pelajar dan pedagang. Aksi ini muncul karena keterlambatan respons dari pemerintah daerah terkait perbaikan.
Kepala Desa Ba’ Liku, Nelson, menjelaskan, warga merasa perlu segera melakukan perbaikan karena jembatan merupakan jalur utama kegiatan sehari-hari. Masyarakat sadar bahwa tanpa jembatan yang layak, mobilitas, transportasi logistik, dan layanan publik akan terhambat, termasuk pengiriman kebutuhan pokok.
Selain itu, perbaikan ini juga menjadi simbol gotong royong masyarakat yang kuat. Warga dari berbagai kelompok, mulai pemuda hingga orang tua, ikut serta dalam proses perbaikan. Kegiatan ini memunculkan rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi di tengah desa.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Proses Perbaikan Yang Padat Dan Efektif
Perbaikan jembatan dilakukan dengan memanfaatkan waktu luang warga, terutama saat akhir pekan dan libur sekolah. Mereka bekerja secara bergotong royong, memotong kayu, memperkuat pondasi, dan menyiapkan lantai jembatan baru. Aktivitas ini berlangsung sejak pertengahan Maret 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir bulan.
Para pegawai kantor Camat Krayan Tengah juga ikut membantu. Mereka menyiapkan peralatan dasar, seperti palu, paku, dan gergaji, serta memberikan pengarahan teknis agar jembatan bisa lebih kuat dan tahan lama. Kegiatan ini berlangsung dengan disiplin tinggi meski bersifat sukarela.
Selain fisik, warga juga menyiapkan jalur sementara agar kendaraan tetap bisa melintas. Langkah ini menunjukkan kreativitas warga dalam menghadapi keterbatasan sarana dan infrastruktur, sekaligus meminimalkan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat.
Baca Juga: Viral! Pertamina 24 Jam Di Pontianak, Antrean BBM Jadi Sorotan Netizen
Partisipasi Warga: Uang, Bahan, Hingga Donat
Menariknya, sumbangan warga tidak hanya berupa uang tunai. Minimal 40 warga ikut berpartisipasi dengan nominal Rp 50.000 hingga Rp 300.000 per orang. Dana ini digunakan membeli material kayu, semen, dan besi untuk perbaikan jembatan.
Beberapa warga menyumbang bahan logistik seperti 5 liter bensin, oli bekas, hingga peralatan sederhana. Ada juga yang menyumbang makanan ringan, termasuk 100 donat, untuk menyuplai tenaga pekerja lapangan. Sumbangan unik ini menjadi bukti nyata partisipasi aktif warga dalam kegiatan komunitas.
Koordinasi donasi dilakukan melalui bendahara desa, kepala desa, dan aparat Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Semua pihak terlibat untuk memastikan sumbangan dimanfaatkan secara tepat dan transparan, sehingga proses perbaikan berjalan lancar.
Peran Aparat Desa Dan ASN
Aparatur Sipil Negara (ASN) di tingkat desa juga memberikan kontribusi signifikan. Mereka bukan hanya menyumbang dana, tetapi juga tenaga dan keahlian dalam pengerjaan. Kolaborasi ini memperkuat semangat gotong royong dan menjadi teladan bagi masyarakat.
Nelson menekankan bahwa perbaikan jembatan sepenuhnya merupakan swadaya masyarakat tanpa bantuan pemerintah daerah. Hal ini sekaligus menjadi kritik tersirat terhadap kinerja pemerintah yang belum mampu menghadirkan solusi cepat dalam infrastruktur vital.
Selain itu, keterlibatan aparat desa dan ASN mempermudah koordinasi lapangan. Mereka membantu mengatur jadwal kerja, pembagian tugas, serta pengawasan kualitas perbaikan, sehingga proses berjalan aman dan efisien.
Harapan Warga Dan Sorotan Ke Pemerintah
Jembatan Sungai Aba’ awalnya dibangun pada 2007 melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Selama bertahun-tahun, jembatan sering mengalami kerusakan karena tidak adanya pemeliharaan rutin. Sejak kerusakan 2023, warga melakukan dua perbaikan darurat sendiri.
Warga berharap pemerintah kabupaten Nunukan bisa memberi perhatian lebih serius. Mereka menekankan pentingnya jembatan ini untuk kelancaran ekonomi lokal, transportasi pendidikan, serta mobilitas masyarakat umum. Tanpa perbaikan permanen dari pemerintah, warga khawatir jembatan akan kembali rusak dalam waktu dekat.
Nelson menyatakan, aksi gotong royong ini bukan hanya simbol solidaritas, tetapi juga kritik tersirat kepada pemerintah. Masyarakat berharap agar pemerintah daerah memberikan respons nyata, baik melalui perbaikan struktural maupun anggaran yang memadai, demi keberlanjutan akses vital desa.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari geger.id