Seorang pria dipasung selama 20 tahun karena diduga memiliki ilmu kanuragan, Kisah ini mengungkap fakta mengerikan di baliknya.
Sebuah kisah mengerikan mengemuka dari sebuah daerah terpencil. Seorang pria diketahui dipasung selama 20 tahun di dalam kandang dengan alasan yang tak biasa.
Warga sekitar Kalimantan Indonesia meyakini ia memiliki ilmu kanuragan yang dianggap membahayakan. Fakta di balik peristiwa ini pun mengundang tanda tanya besar, sekaligus membuka tabir praktik kelam yang selama ini tersembunyi.
Kisah Pilu Kirno, Pria Dipasung 20 Tahun Di Ponorogo
Kirno, seorang pria berusia 60 tahun dari Ponorogo, Jawa Timur, menghabiskan hampir separuh hidupnya dipasung di jeruji besi mirip kandang. Keputusan ini diambil keluarga untuk menjaga keselamatan warga dan orang terdekat akibat perilaku berbahayanya.
Gangguan kejiwaan Kirno diyakini berawal dari obsesi mempelajari ilmu kebatinan atau kanuragan secara tidak wajar. Keinginan tersebut muncul saat usianya masih 20 tahun, jauh sebelum ia siap secara mental menanggung konsekuensi ilmu tersebut.
Menurut adik kandungnya, Sarti, keluarga awalnya menilai Kirno terlalu memaksakan diri dalam belajar ilmu spiritual. Upaya itu justru menimbulkan ketidakseimbangan mental yang kian memburuk seiring waktu.
Awal Mula Gangguan Dan Perjalanan Mencari Ilmu Kanuragan
Kirno mulai tertarik mempelajari ilmu kanuragan pada 1986. Ia berkelana ke berbagai daerah, termasuk Trenggalek, Malang, dan Blitar, mencari guru spiritual yang diyakininya mampu mengajarkannya ilmu tinggi.
Sayangnya, perjalanan spiritual yang dimaksud justru membuat kesehatan mental Kirno menurun. Setibanya di rumah, perilaku dan pikirannya berubah drastis, menunjukkan gejala yang sangat berbahaya bagi dirinya maupun lingkungan sekitar.
Keluarga menyebut perubahan tersebut termasuk kecenderungan membunuh hewan ternak, merusak properti rumah, membakar batu nisan, hingga mengonsumsi benda-benda berbahaya seperti besi, api, dan bulu bangkai. Perilaku aneh ini membuat keluarga semakin khawatir akan keselamatan semua pihak.
Baca Juga: Emosi Tak Dipinjamkan Uang, Jukir di Pontianak Bacok Teman Kerja
Insiden Kekerasan Dan Keputusan Memasung
Puncak kekerasan Kirno terjadi pada 12 Juli 2006. Saat itu, ia menyerang suami Sarti dengan gancu dan sabit, nyaris merenggut nyawa iparnya. Insiden ini menjadi titik balik bagi keluarga untuk mengambil keputusan ekstrem.
Berbagai usaha pengobatan, termasuk alternatif ke Prigi, telah dicoba. Namun Kirno merasa dianiaya saat hendak diobati, sehingga pengobatan tidak efektif. Bahkan ia mampu pulang lebih cepat sebelum pendampingnya, memperlihatkan kondisi mental yang sulit dikendalikan.
Keluarga akhirnya memutuskan memasung Kirno dalam kerangkeng panggung yang didesain tidak menyentuh tanah. Langkah ini dimaksudkan untuk meredam kekuatannya sekaligus menjaga keselamatan warga dan keluarga.
Kehidupan Kirno Di Kerangkeng Dan Perawatan Keluarga
Meski dipasung, keluarga memastikan kebutuhan dasar Kirno tetap terpenuhi. Makan tiga kali sehari, minum kopi, dan rokok tetap diberikan, menunjukkan bahwa tindakan ini bukan bentuk penelantaran, melainkan langkah pengamanan.
Sarti menegaskan keluarga tidak menelantarkan Kirno, meski perilakunya mengancam keselamatan orang lain. Penempatan dalam kerangkeng dianggap sebagai solusi paling aman untuk semua pihak.
Kisah Kirno menjadi pengingat akan risiko belajar ilmu spiritual secara ekstrem tanpa persiapan mental. Sementara masyarakat sekitar berharap langkah keluarga dapat menjaga keamanan sekaligus memberikan perhatian bagi Kirno agar tetap hidup dengan kebutuhan dasar terpenuhi.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com