Ratusan siswa dan guru di Kalimantan Barat menolak menu MBG Ramadan simak alasan dan penjelasan lengkapnya di sini.
Kebijakan menu MBG selama Ramadan di Kalimantan Barat menuai perhatian luas. Ratusan siswa bersama puluhan guru menyatakan penolakan dan menyampaikan sejumlah alasan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius. Situasi ini memunculkan diskusi tentang kebijakan sekolah, kebutuhan peserta didik, serta evaluasi program yang dijalankan selama bulan suci.
Dapatkan beragam berita dan informasi menarik serta tepercaya lainnya untuk memperluas wawasan Anda hanya di berita Kalimantan Indonesia.
Penolakan Menu MBG Di SMA Negeri 1 Rasau Jaya
Ratusan siswa dan puluhan guru di SMA Negeri 1 Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat, menolak paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Selasa (24/2/2026).
Penolakan itu dilakukan secara kolektif setelah menu dinilai belum memenuhi harapan. Aksi tersebut berlangsung tertib tanpa kericuhan di lingkungan sekolah. Pihak guru dan siswa sepakat untuk tidak menerima paket yang telah didistribusikan.
Jumlah penerima manfaat di sekolah tersebut tercatat sebanyak 743 siswa dan 50 guru. Seluruhnya memilih mengembalikan menu yang diterima pada hari itu. Langkah ini langsung menjadi perhatian karena melibatkan jumlah penerima yang besar. Peristiwa tersebut pun memicu diskusi tentang kualitas dan standar menu MBG selama Ramadan.
Alasan Penolakan Dari Pihak Sekolah
Salah seorang guru Vivi Awalia menyampaikan bahwa keputusan itu diambil berdasarkan pertimbangan bersama. Menurutnya, menu yang diberikan dinilai belum sesuai dari sisi pemenuhan gizi dan kelayakan anggaran. Ia menjelaskan bahwa keberatan bukan hanya datang dari tenaga pendidik. Para siswa juga menyuarakan pandangan serupa setelah melihat isi paket makanan.
Menu yang dibagikan untuk jatah dua hari terdiri dari setengah tongkol jagung, lima butir kurma, tiga buah kelengkeng, satu jeruk, satu kue pisang cokelat, serta satu bolu kukus. Komposisi tersebut dianggap belum mencerminkan kebutuhan nutrisi yang memadai. Dengan pertimbangan itu, pihak sekolah memilih mengembalikan paket sebagai bentuk masukan. Mereka berharap evaluasi dapat dilakukan agar kualitas program semakin baik ke depan.
Baca Juga: Drama Perceraian Berujung Teror, Polisi Amankan Pria di Banjarmasin
Menu Ramadan Dan Standar Pelaksanaan
Kepala Program MBG Regional Kalbar Agus Kurniawi, menjelaskan bahwa menu selama Ramadan memang berbeda dari hari biasa. Penyesuaian dilakukan agar makanan dapat dikonsumsi saat berbuka puasa. Ia menyebutkan bahwa sesuai prosedur operasional, menu Ramadan umumnya berupa makanan kering. Contohnya telur, buah, roti, kurma, atau makanan khas lokal yang tidak mudah basi.
Makanan bercita rasa pedas maupun yang cepat rusak tidak dianjurkan dalam distribusi. Kebijakan ini bertujuan menjaga kualitas dan keamanan pangan selama proses pembagian. Agus menegaskan bahwa meskipun berbentuk makanan kering, komposisi tetap harus memperhatikan prinsip gizi seimbang. Standar keamanan pangan juga diterapkan secara ketat dalam setiap distribusi.
Prinsip Gizi Dan Keamanan Pangan
Dalam pelaksanaannya, program MBG tetap mengacu pada pedoman nutrisi yang berlaku. Setiap menu diwajibkan memenuhi keseimbangan antara karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Selain itu, aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama. Produk yang dibagikan harus melalui pengecekan masa kedaluwarsa serta kelengkapan izin edar seperti PIRT.
Agus juga menekankan bahwa makanan kemasan pabrikan ultra-processed food tidak dijadikan menu utama. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kualitas asupan yang diterima siswa. Ia memastikan bahwa prinsip dasar MBG adalah menyediakan makanan yang aman dan layak dikonsumsi. Terutama saat berbuka, menu harus tetap menyehatkan dan sesuai standar.
Harapan Evaluasi Dan Perbaikan Program
Pihak sekolah menegaskan bahwa penolakan bukan bentuk penentangan terhadap kebijakan pemerintah. Langkah itu dimaksudkan sebagai masukan agar program dapat ditingkatkan. Guru dan siswa berharap ada dialog terbuka antara pengelola dan penerima manfaat. Dengan komunikasi yang baik, perbedaan persepsi dapat diselesaikan secara konstruktif.
Hingga kini belum ada keterangan resmi lanjutan dari pengelola MBG di Kubu Raya terkait tindak lanjut penolakan tersebut. Namun, harapan akan evaluasi menyeluruh terus disuarakan oleh pihak sekolah. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan partisipasi dalam pelaksanaan program publik. Dengan evaluasi yang tepat, MBG diharapkan mampu memberikan manfaat optimal bagi siswa dan guru.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.google.com
- Gambar Kedua dari www.detik.com